|
Tesis 1: Sosialisme demokratis adalah sebuah asas bagi
pembentukan suatu tatanan politik dan sosial yang di dalamnya semua orang
akan memiliki kebebasan yang sama di semua bidang kehidupan melalui
solidaritas dan organisasi masyarakat.
Tesis 2: Sistem ekonomi kapitalis juga membagi-bagi
masyarakat menjadi berkelas-kelas. Pembagian ini, memang benar, tidak lagi
merupakan ikatan turun-temurun dan berdasarkan hukum, tetapi sesungguhnya ada
dan efektif. Di dalam sistem ini, janji kebebasan, persamaan dan persaudaraan
terwujudkan hanya bagi golongan minoritas saja, yakni kelas kaya. Mayoritas
besar, yakni kelas tak kaya, lagi-lagi mendapati diri mereka sendiri dalam
keadaan tetap tergantung, tak sama derajat, tercampakkan.
Tesis 3: Kaum borjuis tidak melaksanakan konsep konstitusi
liberal secara tuntas hingga tercapai demokrasi paripurna. Di hampir seluruh
negeri Eropa, kaum borjuis mendukung sistem parlementer yang tidak menghitung
suara para warga negara; tolok-ukurnya adalah pendapatan dan harta kekayaan.
Tesis 4: Di bawah kapitalisme, sebagian terbesar dari
kelas tak berharta kekayaan tidak mempunyai kebebasan, persamaan hak, dan
bagi mereka tak ada persaudaraan. Dengan pembagian kelas baru itu, program
liberal pasti gagal sebagai sebuah program untuk masyarakat secara
keseluruhan. Sosialisme adalah jawaban historis terhadap kontradiksi
tersebut. Dengan konsisten sosialisme menuntut terwujudkannya sebuah
masyarakat yang didasarkan atas kemerdekaan yang sama rata dan solidaritas
antara semua warganya, dan membebaskan masyarakat itu dari segala hambatan
yang diakibatkan oleh pemilikan harta kekayaan. Sosialisme mencita-citakan kemerdekaan bagi semua orang
melalui solidaritas dan organisasi masyarakat.
Tesis 5:
Obyek sosialisme adalah menerjemahkan hak menentukan nasib sendiri bagi semua
orang ke dalam realitas. Apabila orang terus-menerus sibuk bertikai satu sama
lainnya, kebebasan tidak dapat menjadi suatu realitas bagi semuanya karena
yang paling kuatlah bakal menang. Kebebasan yang sama hanyalah mungkin ada,
apabila solidaritas ada di antara orang-orang itu. Penghapusan
rintangan-rintangan hukum saja tidaklah cukup untuk menjamin hak-hak yang
sama. Rintangan-rintangan
itu dapat digantikan oleh hak-hak istimewa yang baru. Hak milik pribadi atas
alat-alat produksi terbukti merupakan suatu hak istimewa yang menghambat
kebebasan. Oleh karena itu hak istimewa tersebut harus dihapuskan.
Hak-hak yang sama dan kesempatan nyata untuk menentukan
nasib sendiri seseorang mensyaratkan pembagian adil barang yang dihasilkan
bersama dan hak bagi semua orang untuk ikut menyatakan pendapat dalam
soal-soal kepentingan bersama. Kedua tujuan ini hanya dapat dicapai melalui
organisasi sosial.
Tesis 6: Sistem ekonomi kapitalis sendiri menjurus
menimbulkan kontradiksi antara janjinya akan kemerdekaan, persamaan dan
persaudaraan dan situasi aktual pekerja. Sosialisme mencita-citakan suatu
tatanan ekonomi dan sosial baru. Ciri-ciri tatanan ini adalah perencanaan
ekonomi yang berorientasikan kepentingan masyarakat secara keseluruhan dan
peran-serta kaum pekerja dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
Tesis 7: Dengan kemajuan teknologi masyarakat yang terus
berlangsung, perampungan proses industrialisasi dipandang sebagai prasyarat
sejati bagi sosialisme. Di bawah pengaruh Marx, kedua prinsip bagi struktur
politik perekonomian sosialis itu diutarakan dalam rumusan berikut, yang
ternyata tetap berlaku selama kurun waktu berikutnya yang cukup lama:
"Hanya transformasi hak milik pribadi kapitalis atas alat-alat produksi
- tanah, pertambangan, bahan baku, peralatan dan mesin, angkutan - menjadi
harta milik bersama, dan pengubahan produksi menjadi produksi sosialis yang
dikelola untuk dan oleh masyarakatlah yang dapat menjamin bahwa unit industri
besar dan produktivitas kerja yang terus-menerus meningkat itu akan berubah
artinya bagi kelas-kelas yang sampai kini dihisap: dari sumber kesengsaraan
dan penindasan menjadi sumber kesejahteraan yang paling luas dan
penyempurnaan yang menyeluruh dan selaras. (Program Erfurt dari SPD, 1891).
Tesis 8: Konsep sosialisme yang didasarkan pada
penyelesaian indutrialisasi menimbulkan paham Eropa-sentris yang menonjol di
dalam gerakan sosialis yang mendominasi pikiran sosialis hingga sekarang.
Tesis 9: Asas-asas sosialis tentang "pemilikan
umum" dan "produksi untuk dan oleh masyarakat" tidak
dirumuskan sebagai sebuah rencana yang dapat dipraktikkan oleh masyarakat. Di
dalam gerakan sosialis asas-asas ini cendrung lebih banyak dipandang sebagai
lambang yang menunjukan arah reorganisasi ekonomi dan sebagai landasan bagi
suatu perekonomian sosialis.
Tesis 10: Satu-satunya kesempatan bagi para anggota
masyarakat ekonomi lemah untuk mencapai kebebasan yang sama adalah
mengembangkan semangat solidaritas dan menghimpun diri ke dalam perserikatan.
Dengan kekuatan jumlah mereka dan persatuan mereka, mereka harus menentang
hak-hak istimewa kelas berharta kekayaan. Sebagai kekuatan yang terorganisasi
mereka dapat mempergunakan pengaruh terhadap negara. Dengan demikian negara
dapat menjadi sebuah alat yang mengabdi masyarakat sebagai keseluruhan.
Sebuah negara demokratis dapat mengubah kondisi kehidupan di dalam industri
dan masyarakat. Dengan menjadi terorganisasi, para anggota masyarakat yang
lemah dapat menjamin terselenggarakannya kekuasaan atas negara yang mereka
perlukan untuk mempertahankan hak-hak mereka.
Tesis 11: Solidaritas memainkan peran amat penting dalam
perjuangan sosialis untuk pembebasan dan dalam konsepnya bagi pembentukan
sebuah masyarakat yang adab. Hanya apabila masing-masing orang menunjukan
rasa tanggung jawab terhadap lain-lainnya di dalam upaya mereka memperbaiki
kondisi hidup mereka, dan hanya apabila masing-masing orang bertindak sesuai
dengan itu atas kemauan sendiri, maka kebebasan dan persamaan bagi semuanya
dapat dicapai.
Ikhtisar : (Tesis 1-11)
Sosialisme sejak semula berarti cita-cita akan kebebasan
yang sama di semua bidang kehidupan dan pembagian yang adil kekayaan
masyarakat melalui solidaritas dan organisasi sosial. Pembaruan masyarakat
itu berorientasi kepada tujuan-tujuan berikut ini:
* negara yang berdemokrasi dengan tanggung jawab terhadap
masyarakat
* hak warga untuk berperan serta atas dasar yang sama dalam
pembuatan keputusan di pabrik-pabrik, dan
* koordinasi sosial pembangunan ekonomi.
Penerapan praktik program sosialis itu bertumpu pada tiga
sokoguru, yakni:
* organisasi
sebuah partai politik sebagai landasan bagi pembaruan unsur-unsur dasar
masyarakat dan penerapan asas-asas sosialis di masa depan;
* pengadaan
serikat-serikat buruh untuk memberi kaum pekerja, sekalipun di dalam
kondisi-kondisi yang ada, kekuasaan untuk merundingkan dan memperbaiki
kondisi kerja dan hidup mereka;
* pengadaan
koperasi-koperasi produksi dan konsumsi mendahului dalam skala kecil,
terwujudnya cara hidup dan kerja sosialis. Ini pun dimaksudkan untuk
menghasilkan perbaikan segera dalam kondisi hidup.
Tesis 12:
Berlawanan dengan semua konsep sebelumnya, marxisme mengaku sebagai
"sosialisme ilmiah". Penambahan dan perubahan khusus pada gagasan
sosialisme yang sudah ada tidaklah sepenuhnya penambahan dan perubahan pada
hakikat tujuannya. Penambahan dan perubahan itu dipusatkan pada jaminan bahwa
sosialisme merupakan suatu keharusan sejarah yang pada umumnya tidak
tergantung dari kemauan rakyat.
Tesis 13:
Tiadanya sebuah konsep khusus dan konsisten bagi pembangunan suatu masyarakat
sosialis tidak merupakan hambatan terhadap perjuangan dari-hari-ke-hari kaum
sosialis-demokrat. Serikat-serikat buruh dan partai berjuang untuk
memperbaiki situasi yang ada. Tetapi kekurangan ini justru menjelaskan
mengapa tidak ada hubungan yang meyakinkan antara kerja praktis dari-hari-ke-hari
kaum sosialis dan tujuan sosialis mereka.
Tesis 14: Unsur revisionis berkembang di dalam tubuh
gerekan buruh sosialis pada peralihan ke abad ke-20 ketika kesenjangan antara
teori dan praktik sosialis menjadi melebar. Para penganjurnya berupaya menutup
kesenjangan itu dengan menyusun batasan-batasan yang jelas tentang
dalil-dalil teori fundamental dan dengan menghubungkannya secara realistis
pada perkembangan nyata masyarakat. Revisionisme tidak antimarxis.
Revisionisme bersikap kritis terhadap unsur-unsur marxisme yang
menghalang-halangi kerja pembaharuan yang konstruktif dan menegaskan kembali
unsur yang berkecendrungan menunjang pembaruan.
Tesis 15: Perbedaan nyata antara sosialisme demokrasi dan
komunisme terletak pada fakta bahwa sosialisme demokratis memandang demokrasi
itu sendiri sebagai nilai yang menjadi tujuan sosialisme untuk diperluas ke
seluruh bagian masyarakat, tetapi sama sekali tidak untuk dihapuskan. Di lain
pihak, komunisme membenarkan kediktatoran proletariat dengan keharusan historis
sosialisme yang dinyatakan oleh Marx. Kaum komunis ingin menegakkan
kediktatoran tersebut sebagai pengganti demokrasi sampai tiba waktunya ketika
masyarakat tanpa kelas telah terbentuk. Tak satu
pihak pun menyangkal sosialisasi alat produksi dan keabsahan marxisme.
Ikhtisar:
(Tesis 12-15)
Pengenalan
(identifikasi) diri sosialisme demokratis di Jerman timbul dari pertentangan
antara marxisme dan revisionisme maupun antara sosialisme dan
marxisme-leninisme. Pertentangan antara revisionisme dan marxisme di dalam
gerakan sosialis memperkuat kemungkinan-kemungkinan bagi pembaruan sosialis
di dalam masyarakat yang kompleks, sekaligus keterbatasan yang
menghalanginya. Maka menjadi jelas bahwa keruntuhan kapitalisme tidak harus
dipertimbangkan. Suatu revolusi dapat menghilangkan perintang-perintang
tak-demokratis terhadap perkembangan masyarakat, tetapi pembangunan suatu
masyarakat sosialis memerlukan pengubahannya secara bertahab. Rakyat harus
setahab demi setahab memperoleh kesempatan-kesempatan baru bagi penentuan
nasib sendiri. Proses perubahan itu harus mereka alami sendiri.
Setiap tahap
dalam pelaksanaan kebijakan politik sosialis harus memperbesar kebebasan,
persamaan dan solidaritas mereka. Sosialisme bukanlah suatu rencana yang
sudah jadi bagi masyarakat, tetapi sebuah asas yang mengatur demokratisasi
masyarakat secara luas menyeluruh. Selama kaum sosialis-demokrat ditindas dan
dipencilkan, hanya minoritas saja yang cendrung ke revisionisme. Usul-usul
yang lebih radikal muncul untuk mempertinggi semangat juang gerakan dan
secara berangsur-angsur revisionisme menjadi landasan bagi mayoritas anggota
partai. Pertentangan antara sosialisme demokratis dan marxisme-leninisme
membagi gerakan buruh internasional menjadi dua kubu.
Kaum komunis
menyimpulkan dari "sosialisme ilmiah" hak mendominasi partai
melalui suatu pimpinan yang sadar (sentralisme demokratis), dan melalui
partai mendominasi negara di bawah sistem sosialis (kediktatoran proletariat)
tanpa pembatasan. Kediktatoran suatu elite yang "sadar" adalah inti
komunisme. Tetapi dalam hal sosialisme demokratis, adalah demokrasi yang
menjadi inti dan prasyarat bagi sosialisme. Kaum komunis mengartikan
sosialisme sebagai pemilikan (penguasaan) oleh negara plus perencanaan
sentral. Kaum sosialis-demokrat merumuskan sosialisme sebagai demokratisasi
paripurna masyarakat. Bagi mereka setiap tahab dalam pelaksanaan kebijakan
politik sosialis harus berupa tahab yang sudah direncanakan menuju kebebasan
dan persamaan yang lebih besar seperti yang dihasratkan oleh mayoritas. Ini
harus menjadi tolok ukur bagi pemilihan sarana dalam mengupayakan perubahan
sosialis.
Tesis 16:
Penegakan sosialisme semata-mata tergantung kepada kesediaan mayoritas untuk
memperjuangkan tujuan-tujuan mereka karena keyakinan dan dengan waspada mempertahankan
yang sudah dicapai. Hasil-hasil yang sudah dicapai itu selalu berada dalam
bahaya.
Tesis 17:
Sosialisme adalah suatu proses yang menuntut kerja keras yang
tujuan-tujuannya bila dicapai hanya mempertimbangkan hasil yang kurang
sempurna dan sedang-sedang saja. Karena itu diperlukan program yang konkret.
Tingkat upaya mencapai hasil yang mendekati asas-asas sosialis dibatasi tidak
hanya oleh kekuasaan politik tetapi juga oleh perlawanan sosial dan kondisi
ekonomi.
Tesis 18:
Suatu program sosialis yang semata-mata diperuntukan bagi kelas pekerja tidak
mungkin akan diterima di dalam suatu masyarakat yang berdiferensiasi sosial
yang di dalamnya kaum buruh tidak merupakan mayoritas. Program sosialis harus mengabdi
kepentingan golongan-golongan penduduk yang lebih luas. Tidaklah cukup
mengatakan bahwa persesuaian nyata dengan kepentingan golongan-golongan
tersebut sangatlah perlu. Persesuaian
itu harus secara meyakinkan tampak jelas bagi mereka. Partai sosialisme
demokratis harus menjadi partai rakyat.
Tesis 19:
Tujuan-tujuan sosialis dapat dibenarkan menurut pelbagai cara. Tidak ada
artinya ataupun tak ada manfaatnya bagi suatu tujuan politik menilai motif
yang satu lebih tinggi daripada yang lain. Untuk menjamin derajat identitas
politik setinggi mungkin dan untuk menghormati kepercayaan pribadi kaum
sosialis, semua motif harus mempunyai kedudukan yang sama di dalam partai.
Tesis 20:
Tanpa demokrasi tak akan mungkin ada sosialisme. Kekuasaan berdasarkan hukum
dan kebebasan mengemukakan kritik dan menentang sistem yang tengah berkuasa
adalah hal-hal yang esensial bagi setiap masyarakat yang layak bagi manusia.
Manakala demokrasi dihancurkan, maka kebebasan tak akan ada lagi. Kepentingan
kaum pekerja tak dapat lagi dilindungi dengan efektif. Serikat buruh menjadi
lumpuh.
Tesis 21:
Hanya di dalam suatu perekonomian campuran dengan perlengkapan
pengambilan-keputusan yang demokratis di semua tingkat akan mungkin dijalin
erat kebebasan, persamaan dan efisiensi ekonomi dengan hasil nyata. Asas-asas
pasar dan perencanaan, hak milik swasta yang terkendalikan dan pengendalian
oleh negara atas alat produksi, dengan demikian dapat digabungkan dalam upaya
mencapai tujuan-tujuan politik ekonomi sosialis.
Ikhtisar:
(Tesis 16-21)
Dorongan awal
mula sosialisme demokratis, yang bertujuan menciptakan sebuah masyarakat yang
berkebebasan sama atas dasar solidaritas, tetap menjadi unsur pokok gerakan
tersebut hingga kini. Kaum sosialis-demokrat telah berulang kali dipaksa oleh
pengalaman sejarah untuk memikirkan kembali jalan-jalan yang mereka tempuh
guna mencapai tujuan ini. Ini menghasilkan perubahan-perubahan dan batasan
yang lebih tepat mengenai jalan yang harus ditempuh, dan dalam beberapa hal
berupa perubahan drastis. Sosialisme bukanlah sebuah model yang sudah dibuat
tinggal pasang saja bagi masyarakat sehingga dapat dilaksanakan begitu saja.
Asas-asasnya, walaupun selalu masih tetap belum sempurna, harus diterapkan
dalam praktik setahap demi setahap karena menghadapi perlawanan dari banyak
kalangan yang berbeda-beda.
Perubahan
sosialis harus selalu dimulai dari situasi yang berlaku. Suatu program yang
tak realistis dapat mengorbankan gelora hati rakyat, tetapi kenyataan bahwa
program demikian tidak dapat dipraktikan sudah pasti akan menimbulkan
kekecewaan di kemudian hari dan mengakibatkan rakyat berpaling dari
sosialisme. Di kalangan penduduk yang terdiri dari banyak kelompok sosial
yang berbeda-beda, sebuah partai sosialis yang berjuang untuk memenangkan
dukungan dari mayoritas penduduk itu hanya akan dapat berhasil apabila menjadi
sebuah partai rakyat. Partai ini harus memadukan kepentingan dan kebiasaan
beberapa lapisan sosial. Dalam upaya mencapai tujuan ini, partai tersebut
harus juga memahami secara benar bahwa tujuan-tujuan sosialis dapat
ditegakkan pada keyakinan pribadi yang berbeda-beda.
Jadi, untuk
menjamin jangkauan seluas mungkin identitas politik dan untuk menghormati
keyakinan keagamaan setiap orang, hendaknya jangan ditentukan satu dasar
pemikiran tunggal. Demokrasi adalah jalan yang harus ditempuh dan sekaligus
sebagian dari tujuan kebijakan politis sosialis. Demokrasi adalah demi
kepentingan kaum pekerja. Demokrasi memungkinkan mayoritas mempengaruhi
pengambilan keputusan dan menjamin bahwa serikat buruh dapat mengurus
kepentingan mereka tanpa halangan. Di dalam perekonomian yang dinasionalisasi
dan dikendalikan dari pusat, kebebasan, persamaan hak dan efisiensi ekonomi
berada dalam bahaya besar. Kebijakan politik ekonomi sosialis memerlukan
peran serta demokratis kaum pekerja dalam pengambilan semua keputusan pada
semua tingkat industri. Dengan perkataan lain, kebijakan itu menuntut
demokrasi industri. Di dalam sistem seperti itu, hak milik swasta yang
dikendalikan dapat secara bijak dijalin dengan hak milik umum dan koperasi.
Tesis 22:
Program Godesberg mencakup pengalaman-pengalaman sosialisme demokratis selama
hampir seratus tahun sejak kelahirannya di Jerman dan membentuk
pengalaman-pengalaman itu menjadi sebuah identitas sosialis yang baru dan
tetap. Program
ini melambangkan ditinggalkannya secara resmi oleh sosialisme demokratis
harapan-harapan tak realistis pada masa awalnya. Program Godesberg menegakkan
keselarasan antara program partai dan tugas pelaksanaannya. Program ini
berpegang teguh pada tujuan mengubah masyarakat secara mendasar dengan
dilandasi nilai-nilai dasar kebebasan, persamaan dan solidaritas. Program
Godesberg tidak lagi dimaksudkan sebagai satu upaya besar untuk mengubah
sistem tetapi sebagai suatu proses pembaruan yang terus berlanjut.
Tesis 23: Nilai-nilai fundamental sosialisme demokratis
ialah kebebasan, keadilan dan solidaritas. Makna, kedudukan sama, dan
tuntutan pengakuan keabsahan nilai-nilai tersebut di dalam semua lingkungan
kehidupan, menentukan hakikat sosialisme demokratis. Tujuannya adalah
demokrasi paripurna, demokrasi sebagai cara hidup. Segala cara dan sranan
memberi bentuk masyarakat harus berorientasikan kepada tujuan ini.
Tesis 24: Titik-temu nilai-nilai fundamental dan
tujuan-tujuan fundamental adalah prasyarat bagi aksi bersama di pihak kaum
sosialis-demokrat. Motif yang berbeda-beda bisa diberikan untuk nilai-nilai
fundamental; motif itu boleh jadi bersifat religius, filosofis atau humanis.
Untuk mencapai tingkat identitas politik seluas mungkin, dan untuk
menghormati keyakinan agama, partai Sosialis-Demokrat memperlakukan semua
motif itu sama derajat.
Tesis 25: Nilai-nilai fundamental harus diungkapkan dalam
istilah-istilah konkret jika nilai-nilai itu harus menjadi kriteria bagi aksi
politik. Syarat-syarat fundamental bagi sebuah masyarakat yang layak untuk
manusia menentukan nilai-nilai fundamental ditinjau dari sudut pengalaman
sejarah. Syarat-syarat ini menetapkan kondisi-kondisi organisasi yang bila
tidak ada sosialisme demokratis tidak dapat dilaksanakan: demokrasi sebagai
cara hidup umum, penghapusan setiap bentuk kediktatoran, kesempatan sama
dalam pendidikan, pendorongan bagi terciptanya kehidupan (majemuk) yang
berlaku di semua komunitas, dan solidaritas international.
Tesis 26: Negara demokratis tidak hanya merupakan cara
terbaik untuk mewujudkan kebijakan politik yang didukung oleh mayoritas,
negara itu sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari sosialisme
demokratis. Negara demokratis menjamin persamaan dan kebebasan sebagai
landasan politik dan melindungi hak kaum buruh untuk diwakili.
Tesis 27: Sosialisme demokratis tidak berupaya mengadakan
hak-hak istimewa baru, juga tidak memberikan keistimewaan kepada kelompok
sosial khusus mana pun. Sosialisme demokratis melayani kepentingan semua
orang yang menghasratkan hak-hak yang sama, maka harus mencari dukungan di
kalangan semua golongan masyarakat yang dapat menyetujui program demikian. Di
dalam sebuah masyarakat yang mempunyai banyak lapisan tidaklah mungkin
memenangkan dukungan mayoritas dengan cara apa pun lainnya. Partai
Sosialis-Demokrat harus menjadi partai rakyat.
Tesis 28: Sebuah tatanan sosial yang bertujuan memberi
rakyat hak menentukan nasib sendiri yang lebih besar dan dengan demikian
mengubah hidup mereka tidak dapat ditetapkan dari atas. Hanya apabila tatanan
itu merupakan hasil pengalaman dan kondisi kehidupan rakyat, maka dapat
diharapkan akan memperoleh dukungan penuh rakyat. Sosialisme demokratis harus
terus-menerus memperhitungkan perlawanan kuat karena ia ditujukan menentang
hak-hak istimewa yang ada. Sosialisme demokratis memerlukan dukungan sebuah
gerakan yang kuat seluruh rakyat untuk mencapai tujuan-tujuannya. Kerja di
lingkungan parlemen dan pemerintah saja tidaklah cukup.
Tesis 29: Tujuan sosialisme demokratis adalah penentuan
nasib sendiri dan tanggung jawab sosial. Tujuan ini hanya dapat dicapai
dengan suatu perekonomian yang menggabungkan pelbagai bentuk hak milik dan
sarana pengendalian (kontrol). Keputusan-keputusan di bidang ekonomi harus
didemokratisasi sehingga rakyat yang terkena keputusan itu dapat sejauh
mungkin berperan serta di dalamnya.
Ikhtisar (Tesis 22-29)
Program Godesberg Partai Sosialis-Demokrat Jerman tahun
1959 dan "Orientierungsrahmen" menggabungkan pengalaman sejarah dan
wawasan sosialisme demokratis ke dalam sebuah konsep baru sosialisme. Sosialisme adalah asas bagi realisasi optimal
nilai-nilai dasar kebebasan, keadilan dan solidaritas di dalam kondisi sosial
tertentu. Nilai-nilai dasar ini merupakan tujuan sebuah masyarakat orang
bebas dengan hak-hak sama yang hidup dalam solidaritas. Hak-hak istimewa akan
digantikan oleh demokrasi di dalam semua sektor kehidupan. Pencapaian tujuan sosial ini hanya
dapat diselesaikan oleh orang-orang yang penentuan nasib-sendirinya masih
harus dicapai. Sosialisme adalah sebuah tugas permanen. Sosialisme hanya
dapat dicapai secara bertahab dengan menyusun konsep-konsep konkret bagi
bangunan-bangunan sosial alternatif yang ditetapkan oleh mayoritas rakyat dan
diterapkan ke dalam praktik di bawah pengendalian demokratis.
Kondisi-kondisi baru yang timbul harus selalu diuji dalam
segi pandangan nilai-nilai dasar tersebut di atas. Cara-cara yang ditempuh
kebijakan politik sosial tidak ditetapkan sekali untuk selama-lamanya, tetapi
harus dikembangkan di dalam setiap situasi sosial tertentu, dengan
menggunakan nilai-nilai dasar sebagai kriteria. Bagi kaum sosialis, demokrasi
itu sendiri sebuah tujuan, bukan karena demokrasi sendiri memenuhi tuntutan
akan persamaan dan kebebasan tetapi karena demokrasi memungkinkan perubahan
sosial dilakukan dengan tujuan demi kepentingan mayoritas. Penghormatan
kepada hak-hak asasi manusia dan hak beroposisi politik merupakan unsur-unsur
esensial demokrasi.
Pertimbangan-pertimbangan berdasarkan agama atau filsafat
atau bahkan keputusan-keputusan lain keyakinan dapat menjadi alasan untuk
berupaya mengejar tujuan-tujuan sosialisme demokratis. Suatu penilaian
politik tentang hal-hal itu tidak diperlukan. Tujuan politik bersama
mempersatukan rakyat dengan keyakinan yang berbeda-beda di dalam gerakan
sosial-demokrat. Penentuan nasib-sendiri dan penjaminan kebutuhan meteri
merupakan tujuan kebijakan politik ekonomi sosialis. Kedua hal ini tidak
dapat dicapai hanya dengan cara nasionalisasi atau perencanaan terpusat,
tetapi dengan perekonomian yang mencakup keuntungan-keuntungan prakarsa yang
berpola desentralisasi dan kesempatan pengendalian ekonomi menyeluruh maupun
bentuk-bentuk pemilikan yang berbeda-beda. Apa yang esensial adalah
demokratisasi pengambilan-keputusan ekonomi yang memberikan kepada rakyat
peran serta sejati dan praktis dalam keputusan dan suatu bangunan ekonomi
yang menjamin sediaan barang kebutuhan dan jasa yang memadai dan tanpa
bersusah-payah.
Tesis 30: Industrialisasi paripurna tidak harus
menghasilkan sebuah masyarakat berprikemanusiaan. Sebagian dari pengaruh industrialisasi bertentangan dengan
nilai-nilai dasar sosialisme demokratis, dan sebagian lainnya menghambat
realisasi nilai-nilai tersebut. Masyarakat tidak boleh menjadi budak industri
dan teknologi tetapi harus menguasainya sesuai dengan asas-asas
prikemanusiaan.
Tesis 31:
Himpunan Sosialis Internasional memungkinkan partai-partai sosialis
saling-tukar pengalaman dan memajukan solidaritas dan saling-bantu di
kalangan mereka. Bangunan dan tujuannya memperhitungkan kenyataan bahwa
nilai-nilai dasar sosialisme demokratis dicapai dengan cara-cara yang
berlainan di negeri-negeri yang berlainan. Sosialisme demokratis ada dalam
banyak bentuk, tergantung kepada tradisi dan kondisi masing-masing negeri.
Tesis 32:
Komunisme berlawanan dengan tujuan negeri-negeri sedang berkembang. Dengan
asas kediktatoran partainya, komunisme menghalangi pengambilan-keputusan
demokratis. Pada akhirnya komunisme tidak memenuhi kebutuhan rakyat yang
tidak dapat bersuara menyatakan pendapat karena kritik dan pluralisme tidak
diperbolehkan. Kebijakan politik pembangunan komunis mengandalkan
militerisasi kaum buruh dan pengorbaan paksaan. Di seluruh dunia Uni Soviet
lebih mengutamakan kepentingan strategisnya sendiri daripada kebutuhan
pembangunan negeri-negeri Dunia Ketiga. Ia memajukan militerisasi dan
memindahkan konflik Timur-Barat ke Dunia Ketiga.
Tesis 33: Kebijakan politik perusahaan-perusahaan
multinasional dan kebijakan politik neo-imperalis negeri-negeri industri
terkemuka yang dimaksudkan untuk mempertahankan dominasi mereka atas
perdagangan dunia berlawanan dengan tujuan-tujuan sosialisme demokratis.
Kebijakan politik seperti itu menciptakan ketergantungan ekonomi dan
ketakadilan, dan menghambat pembangunan demokratis.
Tesis 34: Rezim-rezim otoriter selalu bertentangan dengan
sosialisme demokratis walaupun mereka mempunyai dukungan massa atau bermaksud
memenuhi kebutuhan massa. Sebenarnya mereka mencabut hak rakyat untuk
menyatakan pendapat dan bertindak untuk kepentingan mereka sendiri dan dengan
demikian meniadakan martabat rakyat. Mereka tidak membolehkan rakyat
merumuskan kepentingannya sendiri dan mempertahankannya. Itulah sebabnya
mereka selalu cendrung menghindari kepentingan rakyat yang sebenarnya,
walaupun maksud-maksud mereka mungkin berlainan.
Tesis 35: Ada ratusan contoh untuk memperlihatkan bahwa kediktatoran
militer menjadi sukses hanya dalam tahab awal ketika keputusan besar harus
diambil. Tetapi ketika sampai kepada pelaksanaan keputusan itu dan timbul
pertanyaan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah pembangunan, mereka gagal.
Ini adalah karena di bidang kegiatan itu diperlukan memadukan pelbagai
kepentingan yang berbeda-beda dan memotivasi rakyat untuk berpartisipasi di
dalam pekerjaan itu dan mengembangkan prakarsa mereka sendiri. Ini hanya
dapat dicapai atas dasar sukarela dengan meyakinkan rakyat akan perlunya
tindakan-tindakan yang harus diambil. Tetapi karena kediktatoran militer
mengandalkan penggunaan kekerasan, para pengemban kediktatoran ini tidak
dapat membantu perkembangan partisipasi sukarela itu.
Tesis 36: Sudah sejak lama ada gerakan sosial dan politik
di Dunia Ketiga yang sebelum, selama dan sesudah kolonisasi berupaya mencapai
tujuan-tujuan yang sesuai dengan sosialisme demokratis. Penghormatan kepada
hak sama derajat semua orang sampai kepada perlindungan martabat mereka dan
penekanan pada nilai-nilai bersama dalam mengejar tujuan ini mempunyai bentuk
yang berbeda-beda di negeri-negeri Dunia Ketiga, tergantung kepada pelbagai
tradisi mereka.
Ikhtisar (Tesis 29-36): Gerakan-gerakan sosial dan
konsep-konsep yang konsisten dengan sosialisme demokratis berkembang di
negeri-negeri Dunia Ketiga, sebelum, selama dan sesudah era penjajahan. Hak
sama bagi semua orang yang melaksanakan kebebasan mereka dan untuk melindungi
martabat mereka, maupun kesadaran bahwa syarat-syarat ini tidak dapat terpenuhi
tanpa solidaritas, semangat komunitas dan organisasi masyarakat, tercermin di
dalam banyak gerakan sosial di Dunia Ketiga.
Karena sosialisme demokratis bertujuan memberikan
kesempatan yang lebih besar bagi penentuan nasib-sendiri manusia, maka paham
ini bertentangan dengan semua gerakan yang, seperti fasisme atau paham
otoriter, kediktatoran atau kediktatoran militer dengan pelbagai macam
janjinya, membatasi hak-hak dan kebebasan individu. Semua paham itu, selain
merupakan pengingkaran langsung terhadap hak-hak asasi manusia, pada akhirnya
tidak mampu memenuhi kebutuhan langsung mayoritas besar penduduk karena
mereka mengingkari hak orang-orang ini untuk mengurus kepentingan sendiri
masing-masing. Himpunan Sosialis Internasional adalah sebuah perserikatan
partai-partai yang memperjuangkan perwujudan sosialisme demokratis. Atas dasar identitas bersama ini, tiap partai
menentukan jalannya sendiri mengingat tradisi dan masalah nasional
masing-masing
|
|
Blog ini hanya untuk bacaan (idang asshiddiq) pribadi. sebagian besar tentang isi blog ini adalah hasil Copas yg tdk ada izin dari penulis asli
Sabtu, 06 Februari 2016
Sosial Demokratis Dalam 36 Tesis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Syekh Ahmed Hussein Deedat (lahir 1 Juli 1918 – meninggal 8 Agustus 2005 p...
-
Awal Berdirinya Band ~ Sudah pada tahu belum bahwa band ini sebelum dikenal dengan nama Padi, mereka terlebih dahulu memakai nama “...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar