Minggu, 03 Januari 2016

JAKARTA SETELAH TRAGEDI TRISAKTI BERDARAH



Jakarta bagai kota mati. Setelah enam mahasiswa tewas di Trisakti, aksi massa meluluhlantakkan Jakarta dan beberapa kota. Jelas bahwa ketimpangan sosial, sulitnya hidup, memicu aksi penjarahan. Apa yang akan segera dilakukan pemerintah? Adakah Presiden Soeharto akan turun dari jabatannya?

Kematian enam mahasiswa di Universitas Trisakti, 12 Mei 1998, rupanya berakibat luas (lihat: "Sudah di Kampus kok Masih Ditembak-tembaki"). Hampir seluruh kampus di Indonesia turun ke jalan, mengadakan mimbar bebas, atau memanjatkan doa keprihatinan (lihat: Trisakti Bersimbah Darah). Tapi aksi bukan hanya milik mahasiswa. Di luar kampus, aksi meluas dan tak terkendali.
Dan Kamis, 14 Mei 1998, sejarah Republik Indonesia lagi-lagi mencatat lembaran hitam. Kerusuhan melanda Jakarta dan beberapa kota Indonesia. Kesulitan hidup di masa krisis, naiknya harga BBM (walau diturunkan lagi per 16 Mei), lapangan kerja yang makin susut, membakar amarah rakyat. Dan amuk pun pecah (lihat: "Era Soeharto Telah Usai"). Agaknya, kerusuhan 14 Mei itu lebih besar ketimbang Peristiwa Malari pada 1974. Kerugian ditaksir mencapai bilangan "trilyun", korban pun mencapai sedikitnya 200 orang tewas.
Pemerintah jelas tak bisa lagi membisu-tuli. Tapi adakah tuntutan mahasiswa agar Presiden Soeharto mengakhiri masa jabatannya akan terlaksana? Perlu ditunggu. Karena, Jum'at ini (15 Mei) Menteri Penerangan Alwi Dahlan "meluruskan" pernyataan Presiden Soeharto tentang mundur ini -- ini kedua kalinya sejak bertugas Menteri Penerangan melakukan "pelurusan" ucapan Presiden. Kata Alwi, tak benar Presiden Soeharto pernah mengucapkan kata-kata "mundur". Yang benar, Presiden mengatakan bahwa jika tak dikehendaki rakyat, tak menjadi masalah. Dirinya akan menjadi pandhito dan memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Adakah ucapan tak mundur ini memicu kerusuhan lebih jauh, juga belum jelas benar. Tapi, ABRI memang telah diperintahkan untuk mengamankan keadaan. Dan isu-isu bahwa akan lahir lagi lembaga Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), lembaga ekstra judisial yang banyak dikritik, untuk sementara ini tak terbukti kebenarannya.
Sementara itu, Jakarta masih "meriang". Lengang dan sepi. Kantor-kantor hampir semuanya "libur" pada Jum'at ini. Kerusuhan sehari sebelum itu memang sangat menakutkan.
Kamis, 14 Mei 1998 - Jakarta Pusat
Di kawasan Jalan Lautze dan Jalan Ambengan, Pasar Baru, Jakarta Pusat, massa sejak pagi pukul 10.30 WIB berkumpul di depan gang-gang pinggir jalan. Massa mulai menjarah dan membakar kompleks pertokoan di Blok B2 yang tepat berada di depan stasiun Sawah Besar. Barang-barang yang ada habis dijarah.
Kompleks Pertokoan yang dikenal sebagai pusat onderdil itu, sejak pagi sudah tutup, terkunci rapat dengan gembok. Massa mulai mencongkel pintu-pintu toko onderdil dengan linggis. Dan mereka mengeluarkan isinya.
Sementara itu BNI cabang Krekot yang bersebelahan dengan show room mobil Timor dan Bank Guna dibakar massa. Dua mobil kijang operasional BNI yang diparkir di garasi juga ikut terbakar. Selain dibakar, beberapa bank di kawasan Pasar baru juga dirusak massa. Antara lain Bank Haga, BCA, BSD, UIB, BDNI, Lippo.
Aparat keamanan yang terdiri dari satuan Marinir dan Kodam Jaya, tidak bisa bertindak apa-apa. Aparat hanya bisa menonton massa yang membakar toko dan bank-bank, dan sesekali melarang anak-anak sekolah yang masih melempari gedung yang terbakar. Pukul 11. 45 Komandan Satuan Armada Barat, Kolonel Mar. Nono Sampono berjalan kaki melihat situasi di Jalan Sukarjo Wiryopranoto. Kedatangan perwira AL ini dielu-elukan massa.
Di kawasan Pecenongan, hotel dan komplek pertokoan Radisson dirusak massa. Massa melempari kaca hotel dan menjungkir-balikkan pos parkir hotel. Pot-pot bunga dilempar ke tengah jalan. Sedangkan sekerumunan massa mulai mendongkel-dongkel kompleks pertokoan yang masih baru itu. Tercatat, 19 kendaraan yang diparkir di pelataran pertokoan Jalan Lautze dibakar massa.
Massa yang datang dari arah selatan dengan kereta Jabotabek juga ikut melempari beberapa bangunan. Massa makin beringas ketika kereta yang menuju arah kota tidak dapat melanjutkan perjalanan, dan berhenti di stasiun Juanda. Sedangkan dari atas stasiun itu, terlihat asap hitam mengepul dari arah Kota, Jembatan Lima, dan kawasan Mangga Dua.
Kerusuhan tak terkendali juga melanda wilayah Jakarta Pusat. Di Jalan Sudirman, seluruh karyawan kantor yang berada di jalan protokol itu hanya bekerja setengah hari. Mahasiswa Universitas Atma Jaya yang sejak pukul 09.00 WIB, menggelar mimbar bebas keluar jalan sekitar pukul 13.30.WIB. Karyawan kantor yang berada dekat kampus ini, ikut bergabung dalam aksi yang membuat jalan itu macet total. Massa sempat bergerak ke arah barat menuju Polda Metro Jaya di pojok Semanggi. Lempar-melempar dengan pihak keamanan pun baru reda sore harinya.
Di kawasan Salemba, sejak pukul 08.30 WIB, ribuan mahasiswa Universitas Indonesia menggelar mimbar bebas di halaman kampus. Para mahasiswa itu tidak keluar kampus. Tetapi di Jalan Matraman Raya, berkumpul ratusan massa yang datang dari berbagai kampung di sekitar Salemba. Sekitar pukul 11.00 WIB, massa terus berdatangan hingga Jalan Diponegoro, Salemba Raya, Matraman Raya dan Pramuka, macet total. Ribuan massa yang berkumpul di ruas Jalan Salemba Raya dan Diponegoro bergabung. Mereka melempari ratusan aparat kepolisian Polda Metro Jaya, yang berjaga di kawasan itu.
Aparat polisi memilih mundur hingga perempatan Jalan Pramuka. Merasa mendapat angin, massa membakar truk dan mobil milik polisi unit reaksi cepat yang diparkir di depan rumah sakit St. Carolus. Massa di perempatan Jalan Pramuka-Matraman-Proklamasi-Salemba terus meneriakan yel-yel reformasi, menuntut Soeharto mundur. Massa yang berkerumun di depan Fuji Image Plaza Matraman terus melempari dan meneriaki polisi.
Massa ini tampaknya sudah kehabisan kesabaran dan berusaha melemparakan batu ke gedung BCA Matraman. Tetapi oleh petugas Kodam dilarang. Massa yang sebagian besar penduduk Kebon Kemanggisan, Matraman, Pramuka dan Berlan, akhirnya mengajukan pilihan untuk membakar kantor Polsek Matraman.
Tentara Kodam dan Marinir yang mengawasi massa ini terus mengajukan tawar-menawar. "Kalian boleh melakukan apa saja, berteriak, mencaci, tapi jangan merusak gedung. Semua gedung ini milik kalian, milik rakyat," kata seorang petugas dengan suara lantang. Tetapi langsung dibalas dengan teriakan massa, "Senjata dan seragam kepolisian juga milik rakyat, tapi mengapa mereka menembaki rakyat dan membunuh mahasiswa." Mereka sangat histeris kala itu. Aksi yang tidak terkendali ini langsung dikejutkan dengan sebuah lemparan api dari atas jalan fly over Matraman Salemba.
Api langsung mengenai Kantor Polsek yang terletak di pinggir Jalan Matraman. Pembakaran ini pun menghanguskan 3 buah sedan polisi, dan dua buah mobil kijang yang terpakir di halaman kantor Polsek itu. Melihat jilatan api yang membakar gedung itu, massa berteriak kesenangan. Tiba-tiba dari arah Jalan Proklamasi, sebuah truk Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya dibiarkan jalan tanpa sopir dan dibakar. Tadinya mobil itu akan ditabrakkan massa ke gedung Polsek Matraman yang sudah terbakar hangus. Akhirnya truk itu hanya berhenti di tengah lampu merah menuju Salemba. Melihat aksi ini massa kembali berteriak kesenangan.
Polisi yang marah gedungnya terbakar dan dicaci maki langsung membuang tembakan laras panjang ke atas. Seketika massa kocar-kacir, mencari pelindungan dengan bersembunyi di balik gang-gang biro pengetikan skripsi yang berjejer di Jalan Matraman. Polisi yang sudah kepanasan menahan marah langsung membabi buta memberondong tembakan dan berlari mengejar massa. Massa yang bersembunyi di gang-gang pengetikan skripsi pun dihalau. "Anjing saja bisa marah, apalagi kami dicaci maki dan dirusak. Ayo sekarang siapa berani melawan kami," hardik seorang polisi kepada massa yang langsung diam.
Dari atas helikopter polisi menyemprotkan gas air mata ke massa untuk membubarkan massa yang bersembunyi. Tetapi massa tidak takut dan dengan tenang tetap bersembunyi. Seorang anak SMU tertembak dalam penggrebegan di gang pengetikan skripsi. Seragam putihnya bersimbah darah segar. Ia dipeluk seorang bapak supaya bisa bertahan dan jangan menjerit. Di depan jalan Pramuka massa pun terus menerus mengejek polisi. Massa yang sudah antipati ini melempari polisi dengan batu dan membakar ban mobil. Seorang pemuda warga Matraman sempat ditembak polisi dari arah PD Pasar Pramuka Djaya. Siswa SMU ini mengalami luka di iga kanan dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Husni Thamrin. Selesai magrib baru diketahui pemuda tersebut meninggal karena kehabisan darah.
Di depan kantor Fuji Image Plaza Matraman, seorang lelaki berumur 20-an tahun kakinya terkena peluru karet akibat penembakan tadi. Korban ini dibawa ke ruang satpam Fuji Image Plaza untuk ditenangkan. Tak lama kemudian sebuah mobil ambulan dari Kampus ABA menjemput korban dan melarikannya ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo.
Massa di Jalan Haji Murtado tampaknya tak jera dengan aksi ini. Massa yang sudah tidak dapat menahan amarah ini menyiapkan berkarung-karung batu kali dan pecahan genting dan bata. Massa juga menyiapkan ketapel karet yang diarahkan ke petugas. Sesekali massa sempat memparodikan lagu bernada anti Soeharto. Sedang mahasiswa dari kampus ABA-ABI Matraman dengan lantang menyanyikan lagu Baju Baru yang dinyanyikan penyanyi cilik Dhea Ananda dengan mengubah liriknya. Liriknya adalah: Presiden baru alhamdulilah, presiden lama ketuaan, sudah waktunya Harto diganti, jangan memaksa itu-itu lagi.
Lain lagi yang dilakukan massa di jalan Berlan. Massa yang sebagian besar keluarga tentara ini dengan gagah berani melempari toko buku Gramedia. Setelah gedung hancur berantakan, massa menjarah seluruh isi Gramedia. Peralatan sekolah dan peralatan kantor diangkut massa dengan perasaan bersuka cita. Bahan makanan dari lantai Toserba Grasera pun ikut dijarahnya. Seorang ibu tua dengan perasaan bangga menjinjing sekeranjang apel impor. Nenek tua itu hanya berkata singkat, "Ini pesta rakyat, bisa sesuka hati ambil apa saja," katanya sambil terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang ompong. Tiga orang anak mengangkat organ besar dengan tertawa-tawa. "Asyik bisa bikin grup musik," katanya senang. Dua orang pemuda justru mengangkut meja kantor dengan perasaan riang. "Sering-sering aja begini, lumayan bikin kita senang,"
Sementara itu kantor pemasaran Bimantara juga menjadi sasaran amuk massa. Pagar dan rolling door gedung ini dirangsek massa. Komputer, kipas angin, sofa, dan televisi milik Bimantara dikeluarkan, lalu dibakar di tengah jalan. Tidak hanya itu, tiga buah mobil baru Bimantara juga dikeluarkan oleh massa dan dibakar di tengah jalan. Selebihnya mobil yang masih berada di dalam gedung dihancurkan. Aparat keamanan di samping gedung itu hanya mengawasi dari jarak yang tak terlalu jauh -- entah mengapa mereka diam saja.
Massa terus bergerak menuju perempatan Pramuka, di mana aparat telah memblokirnya. Aparat di situ menghalaunya dengan tembakan. Massa pun kocar-kacir. Setelah gedung terbakar, massa masih sempat menjarah sisa-sisa mobil yang terbakar. Knalpot dan sisa-sisa komponen mobil dijarah dan dibawa pulang. Beberapa orang pegawai dari arah Senin yang terjebak di kerumunan karena tidak ada kendaraan justru mengolok-olokan temannya. Dengan sindiran lagu Tenda Biru-nya Dessy Ratnasari dia melantunkan ke arah massa. Bunyinya, "Tak sengaja aku lewat Salemba, kuterjebak ada aksi mahasiswa. Kuberada di kerumunan massa, hati bertanya ini salah siapa."
Sekitar pukul 13.00 WIB, puluhan marinir datang dari arah Salemba Raya. Mereka kemudian berbaur dengan massa yang kalap itu. Mereka mengadukan tangan dengan massa tanda persahabatan, ada juga yang berpelukan. Para marinir itu pun disambut hangat oleh massa. Bersama tentara angkatan laut tadi, massa bergerak lagi menuju perempatan Pramuka. Perempatan ini bak neraka. Massa yang dari Salemba terus merangsek maju, dari Jalan Pramuka pun mendekat dan massa yang dari Jl. Matraman terus membludak. Dari berbagai arah itulah batu-batu dilemparkan ke aparat yang terdesak di wilayah perempatan tadi.
Di sekitar jalan Salemba, tentara marinir mendapat simpati dari massa. Ketika sebuah jip tentara dikemudikan tiga orang marinir membawa selusin aqua galonan besar dan memutari Jalan Salemba sampai Matraman, massa mengelu-elukan. Para marinir ini membagi-bagikan minuman ke massa.
Satuan aparat yang lain melepaskan pelurunya. Massa yang berada di jalan Pramuka pun kocar-kacir. Massa yang di jalan raya Salemba, terus melemparkan batu, sembari berlindung di balik para marinir tadi. Pasukan dari Kodam Jaya yang menutup Jalan Proklamasi kemudian mengejar dan menembak massa. Sempat terjadi salah paham antara para polisi dengan para marinir yang berbaur dengan massa tadi. Mereka nyaris berantem di depan massa yang lagi marah itu. Terlihat jelas bahwa massa mendukung marinir. Untung saja pada saat yang gawat, pasukan polisi militer yang ada di sekitar itu, cukup sigap melerainya.
Polisi terus menembak massa yang nekad maju dari arah Pramuka. Akibatnya korban pun berjatuhan. Iwan Arsyad, 24 tahun, yang bekerja di kantor angkutan di Salemba II no.10, tertembak pas di selangkangnya. Ia digotong ke rumah sakit dalam keadaan sekarat. Korban lainnya adalah Irwan, pelajar STM . Sebuah peluru bersarang pas di dadanya. Korban ketiga identitas tidak jelas. Peluru polisi menyambar bahu dan lehernya.
Amarah massa pun tak terkendali lagi. Mereka terus merangsek maju. Dua buah truk milik Kodam Jaya dibakar massa. Kantor Polsek Matraman pun ludes dilalap api. Empat buah mobil dan motor yang diparkir di depan kantor polisi itu, juga dibakar massa. Aparat memilih mundur dari lokasi ini. Dalam suasana tanpa aparat itulah massa merangsek masuk ke gedung Fuji Film di Jalan Matraman Raya. Bank BCA yang berada di samping Gedung Fuji ini, juga dilempari massa. Hotel Menteng yang di depannya terpampang besar spanduk " reformasi" dan spanduk bertulisakn milik pribumi juga menjadi sasaran amuk massa.
Hingga pukul 20.00 WIB, massa terus beryel-yel di jalan Matraman itu. Sekitar pukul 22.00 WIB, jalan itu terlihat lengang.
Sementara Bank BCA dan BII di Jalan Saharjo, ikut diporak-poranda massa dan isinya dijarah massa. Empat mobil yang terparkir di kompleks ruko tersebut dikeluarkan dan dibakar di tengah jalan. Sementara di tempat parkir, satu mobil lainnya, mengalami rusak berat. Tidak ada siapa pun yang mencegah kebrutalan tersebut. Bahkan aparat keamanan tak satu pun terlihat di situ. Sehingga massa dengan leluasa menjarah dan membawa hasil jarahannya.
Karena peristiwa tersebut, praktis Jalan Saharjo tertutup buat kendaraan yang lewat. Metromini ke arah Manggarai terpaksa menurunkan penumpangnya di sekitar perempatan Casablanca. Bahkan bajaj pun tidak bisa lewat karena api membubung di tengah jalan menghanguskan ke empat mobil tersebut. Di samping itu, sejumlah masyarakat memenuhi jalan tersebut untuk menonton.
Di sejumlah tempat di Jalan Sahardjo ban-ban bekas pun dibakar. Kebrutalan juga terjadi di terminal Manggarai. Pos Polisi yang terdapat di situ juga ikut diamuk massa. Tapi kebringasan yang lebih besar berhasil dicegah. Sejumlah aparat keamanan berjaga-jaga di seputar Manggarai. Termasuk di sejumlah jalan kecil seputar itu, dan lorongnya juga dijaga aparat.
Ada pemandangan "memilukan". Seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun, diantar ibunya, "menjarah" toko alat tulis di bilangan Megaria. Apa yang diambilnya? Tas sekolah "Hello Kitty". Ibunya mengambili buku sekolah. "Ya, ini untuk simpanan setahun," kata si ibu dengan malu-malu. Sang anak spontan menjawab,"Ini jatah rakyat..."
Jakarta Selatan
Di kawasan pertokoan Pasar Minggu, ribuan massa mengamuk membakar dan menjarah barang toko sembari meneriakkan pekik reformasi. Massa yang datang dari arah Lenteng Agung berkumpul dan melempari Bank BCA dan BRI. Sebelum membakar kedua bank tersebut, massa menerobos masuk dan merusak mesin ATM dan menguras isinya. Massa juga memasuki bank dan membawa semua barang yang ada.
Satu mobil jip merek Suzuki milik BRI dan beberapa motor milik karyawan didorong massa ke jalan dan dibakar. Tak hanya kedua bank di tepi Jalan Raya Pasar Minggu menuju Depok yang dibakar massa. Puluhan motor milik show room Suzuki dibawa ke jalan untuk dikumpulkan menjadi satu dan dibakar.
Aparat keamanan yang terdiri dari dua truk Kodam Jaya tak mampu menahan keberingasan massa yang terus bergerak menuju pertokoan milik Pasar Jaya. Sembari melempari beberapa toko, massa juga menjarah barang dagangan yang ada. Terlihat beberapa orang membobol pintu teralis dan masuk, lalu keluar sembari menggotong hasil jarahan. Beberapa toko elektronik dan onderdil kendaraan bermotor ludes dijarah massa. Terlihat puluhan orang menggotong televisi, lemari es, dan barang eletronik lainnya. Beberapa pelajar dan pemuda mencoba menghalangi massa yang membawa barang jarahan. Sekelompok pemuda itu memerintahkan untuk mengumpulkan barang jarahan dan dibakar di tengah jalan.
Berbeda dengan pusat belanja pakaian Robinson yang ludes terbakar, toko serba ada Tetap Segar isinya habis dijarah massa. Terlihat beberapa orang berulangkali mengangkuti hasil jarahannya. Bahkan ada yang membawa karung plastik penuh dengan isinya.
Pusat perkulakan Goro milik Hutomo Mandala Putra, tak luput dari amukan massa. Sebelum membakar, ribuan orang menguras habis isi perkulakan tersebut. Tak hanya pemuda dan pelajar yang ikut menjarah, ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua tak ketinggalan. "Goro bagi-bagi sembako," begitu mereka berteriak kegirangan.
Daerah Kota
Sementara di Jalan Gadjah Mada dan Hayam Wuruk terlihat kondisinya sangat memprihatinkan. Puluan ribu massa menggerombol di sepanjang jalan tersebut hingga jauh terus dari arah Glodok. Menurut seorang saksi mata yang menyaksikan sejak awal, kondisi di sana telah memburuk sejak pukul 09.30. Pukul 10.30, sebagian massa sudah menghancurkan kaca BCA dan membongkar semua barang, termasuk komputer dan barang-barang lain. Semua barang dikeluarkan ke jalan dan dibakar.
Jalan terus menuju Glodok, diskotek Turama juga tampak hancur. Tak jauh dari situ, Holland Bakery dan show room Honda juga dihancurkan. Bahkan massa juga membuka paksa Holland dan mengambili semua roti yang ada. Sebagian ada yang membagi-bagi roti tersebut ke massa. Sebagian yang lain membawa pulang roti jarahan tersebut. Beberapa meter kemudian, sebuah supermarket kecil juga dijarahi. Sambil menentang beberapa tas plastik yang penuh barang jarahan, banyak yang teriak "pembagian sembako".
Sementara di Jalan Mangga Besar Raya, massa membakari puluhan mobil. Mereka juga menghancurkan sebagian bangunan di sepanjang jalan itu. Beberapa bank dan show room tampak porak poranda.
Bagian yang terburuk di jalan ini adalah komplek pusat elektronik Glodok. City Hotel, yang jadi satu dengan Pasar Jaya Glodok terbakar parah. Bahkan sesekali terdengar letusan dari dalam dan terdengar suara gedung yang akan runtuh. Massa pun berlarian menjauhinya. Sementara di seberang jalan, Glodok Plaza juga dihancurkan. Massa juga membakar tempat tersebut, tetapi tidak sehancur Pasar Jaya dan City Hotel.
Massa terus berkumpul dan melempari apa saja. Di kompleks Glodok ini juga tampak spanduk bertuliskan "Pak Dwi, kami butuh dana segar. Kalau tidak, kami butuh darah segar Anda". Ada lagi Spanduk "Sudwikatmono, jangan larikan dana milik rakyat yang sudah kelaparan ini". Spanduk ini dialamatkan untuk Sudwikatmono, konglomerat yang masih kerabat dekat Cendana.
Aparat memang tampak sangat kelelahan mengatasi ini. Beberapa kali mereka mencoba membubarkan massa dengan tembakan peringatan. Pertama, sekitar 12.00 WIB, terlihat puluhan motor PHH meluncur dengan sangat cepat dan dengan cepat mereka turun. PHH mulai memberikan tembakan peringatan. Tidak jelas apakah ada yang terkena tembakan itu, karena massa langsung berlarian dan sembunyi. Tetapi seorang wartawan menyaksikan aparat sempat membawa seseorang yang tampaknya tidak bisa berjalan. Beberapa jam kemudian, terdengar tembakan lagi.
Massa tampak sangat marah di sana. Massa berteriak mengecam keras pemerintahan Presiden Soeharto. "Pemerintahan yang nepotis", "Orang kaya yang punya utang, kenapa kita yang suruh bayar."
Yang pasti, hampir tidak ada bangunan yang selamat dari kerusakan. Massa betul-betul memanfaatkan kesempatan. Bahkan terlihat beberapa orang mengangkat kulkas ataupun TV. Tetapi ada sebagian orang yang juga tampak melarang orang lain untuk membawa pulang barang-barang tersebut. Mereka menyuruh barang-barang itu ditaruh di jalan dan dibakar.
Sementara di beberapa jalan menuju perumahan, tampak hansip dan warga setempat berjaga-jaga. Menurut mereka, mereka hanya ingin menjaga agar kerusuhan tidak merembet ke perumahan mereka. Mereka memasang kursi dan berjaga bersama-sama.
Sehingga sampai sore, sepanjang jalan ini masih terus mengeluarkan asap. Pembakaran belum berhenti. Sampai larut malam, di perempatan jalan Pramuka, Salemba, Matraman, Proklamasi masih ada sisa-sisa api. Suasana malam sangat mencekam. Bau hangus gedung , mobil, dan sisa pembakaran ban masih menyengat. Jumat pagi hari Jakarta terasa lengang.
Jum'at, 15 Mei 1998
Penjarahan masih terus berlangsung. Jakarta praktis seperti kota mati. Bus dan taksi bisa dihitung dengan jari. Pom bensin masih tutup. Pasar dan pertokoan juga libur. Pihak keamanan mengumumkan ada sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan dua hari ini -- sebagian besar terpanggang di gedung yang terbakar.
Tak kurang dari delapan perumahan mewah, sebagian besar di Jakarta Barat, yang dimasuki penjarah. Delapan pusat pertokoan juga ludes digasak massa. Sedikitnya sepuluh kantor polisi hancur atau dibakar massa. Dan 800 orang ditangkap polisi. Sementara itu, di Surabaya dikabarkan 40 orang ditangkap dalam kerusuhan di ibukota Jawa Timur itu.
Warga di hampir seluruh wilayah Jakarta masih bersiaga untuk menghadapi para perusuh yang dikabarkan terus menyerang berbagai lokasi perumahan.
Apakah akan ada perubahan politik besar setelah Peristiwa 14 Mei 1998, baru minggu-minggu ini akan "ketahuan". Tampaknya, tuntutan reformasi yang makin santer, semakin sulit dielakkan lagi oleh pemerintah. Jika tuntutan perubahan mendasar itu tak segera diakomodasi, kondisi politik akan menjadi semakin sumpek, ditambah krisis ekonomi yang makin menekan, bukan mustahil kerusuhan akan makin meluas.
EB, HP, PDP, ANY, WN, MIS


Wawancara Prof. Dr. Moedanton Moertedjo: "Sudah di Kampus kok Masih Ditembak-tembaki"
"Peristiwa 12 Mei di Trisakti membuat semua orang tersentak. Enam orang mahasiswa mati ditembak oleh aparat keamanan ketika mereka berada di dalam kampusnya. Kepada sejumlah wartawan, termasuk Mustafa Ismail dari TEMPO Interaktif, Rabu (13/5) sore, Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Moedanton Moertedjo, mengatakan bahwa ia sangat menyesalkan peristiwa tersebut. "Mereka sudah di kampus, kok masih terus ditembak-tembaki," katanya. Cuplikannya:
Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh pihak Trisakti?
Kita, LBH, dan Komnas HAM akan membentuk satu tim fact finding (pencari fakta). Pak Sjafrie (Pangdam Jaya) sebagai Pangdam juga Ditpom-nya mengadakan pencarian fakta. Nanti kita cocokkan.
Anda menyesalkan peristiwa penembakan itu?
Sangat menyesalkan. Apalagi mereka sudah di kampus, kok masih terus ditembak-tembaki.
Apa tindakan hukum terhadap penembakan itu?
Ya, kita akan buktikan, siapa nanti yang salah. Semuanya sekarang sesuai dengan hukum, sesuai prosedur.
Terhadap aparat yang nanti terbukti melanggar hukum, apakah akan dibawa ke pengadilan?
Jelas ke pengadilan.
Apakah tuntutan itu nanti akan dilakukan oleh pihak rektorat atau diserahkan kepada keluarga masing-masing?
Saya kira rektorat, karena kita merupakan organisasi. Kalau keluarga mau bertindak, silakan.
Apakah Anda percaya ABRI bisa melakukan tindakan tegas terhadap aparatnya?
Saya percaya dari Ditpom bisa.
Apakah ada yang hilang dari peristiwa itu?
Belum jelas.
Oh ya, apakah gerakan moral ini akan terus berlangsung?
Saya kira terus. Kita terus jalan. Asal kita konsisten dengan peraturan yang berlaku, kita tetap di kampus. Kalau mau ke DPR, kita ke DPR dengan tertib. Kita ajukan konsep-konsep dengan tertib melalui para dosen.
Apakah rektorat akan memfasilitasi apabila ada keinginan ke DPR?
Oh ya, jelas. Kita akan mengundang DPR atau kita yang ke DPR serta mengundang orang-orang tertentu untuk diskusi di kampus, dan sebagainya. Asal semua berlaku di kampus saya kira nggak ada apa-apa.

hanya untuk bacaan pribadi....
kalau anda mau cari topik yang sama? carilah yang sumbernya bisa dipercaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

212 2018