Jakarta
bagai kota mati. Setelah enam mahasiswa tewas di Trisakti, aksi massa
meluluhlantakkan Jakarta dan beberapa kota. Jelas bahwa ketimpangan sosial,
sulitnya hidup, memicu aksi penjarahan. Apa yang akan segera dilakukan
pemerintah? Adakah Presiden Soeharto akan turun dari jabatannya?
Kematian enam mahasiswa di Universitas Trisakti, 12 Mei
1998, rupanya berakibat luas (lihat: "Sudah di Kampus kok Masih
Ditembak-tembaki"). Hampir seluruh kampus di Indonesia turun ke jalan,
mengadakan mimbar bebas, atau memanjatkan doa keprihatinan (lihat: Trisakti
Bersimbah Darah). Tapi aksi bukan hanya milik mahasiswa. Di luar kampus,
aksi meluas dan tak terkendali.
Dan Kamis, 14 Mei 1998, sejarah
Republik Indonesia lagi-lagi mencatat lembaran hitam. Kerusuhan melanda Jakarta
dan beberapa kota Indonesia. Kesulitan hidup di masa krisis, naiknya harga BBM
(walau diturunkan lagi per 16 Mei), lapangan kerja yang makin susut, membakar
amarah rakyat. Dan amuk pun pecah (lihat: "Era Soeharto Telah
Usai"). Agaknya, kerusuhan 14 Mei itu lebih besar ketimbang Peristiwa
Malari pada 1974. Kerugian ditaksir mencapai bilangan "trilyun",
korban pun mencapai sedikitnya 200 orang tewas.
Pemerintah jelas tak bisa lagi
membisu-tuli. Tapi adakah tuntutan mahasiswa agar Presiden Soeharto mengakhiri
masa jabatannya akan terlaksana? Perlu ditunggu. Karena, Jum'at ini (15 Mei)
Menteri Penerangan Alwi Dahlan "meluruskan" pernyataan Presiden
Soeharto tentang mundur ini -- ini kedua kalinya sejak bertugas Menteri
Penerangan melakukan "pelurusan" ucapan Presiden. Kata Alwi, tak benar
Presiden Soeharto pernah mengucapkan kata-kata "mundur". Yang benar,
Presiden mengatakan bahwa jika tak dikehendaki rakyat, tak menjadi masalah.
Dirinya akan menjadi pandhito dan memberi perhatian kepada anak-anaknya.
Adakah ucapan tak mundur ini memicu
kerusuhan lebih jauh, juga belum jelas benar. Tapi, ABRI memang telah
diperintahkan untuk mengamankan keadaan. Dan isu-isu bahwa akan lahir lagi
lembaga Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), lembaga ekstra
judisial yang banyak dikritik, untuk sementara ini tak terbukti kebenarannya.
Sementara itu, Jakarta masih
"meriang". Lengang dan sepi. Kantor-kantor hampir semuanya
"libur" pada Jum'at ini. Kerusuhan sehari sebelum itu memang sangat
menakutkan.
Kamis, 14 Mei 1998 - Jakarta Pusat
Di kawasan Jalan Lautze dan Jalan
Ambengan, Pasar Baru, Jakarta Pusat, massa sejak pagi pukul 10.30 WIB berkumpul
di depan gang-gang pinggir jalan. Massa mulai menjarah dan membakar kompleks
pertokoan di Blok B2 yang tepat berada di depan stasiun Sawah Besar.
Barang-barang yang ada habis dijarah.
Kompleks Pertokoan yang dikenal
sebagai pusat onderdil itu, sejak pagi sudah tutup, terkunci rapat dengan
gembok. Massa mulai mencongkel pintu-pintu toko onderdil dengan linggis. Dan
mereka mengeluarkan isinya.
Sementara itu BNI cabang Krekot yang
bersebelahan dengan show room mobil Timor dan Bank Guna dibakar massa.
Dua mobil kijang operasional BNI yang diparkir di garasi juga ikut terbakar.
Selain dibakar, beberapa bank di kawasan Pasar baru juga dirusak massa. Antara
lain Bank Haga, BCA, BSD, UIB, BDNI, Lippo.
Aparat keamanan yang terdiri dari
satuan Marinir dan Kodam Jaya, tidak bisa bertindak apa-apa. Aparat hanya bisa
menonton massa yang membakar toko dan bank-bank, dan sesekali melarang
anak-anak sekolah yang masih melempari gedung yang terbakar. Pukul 11. 45
Komandan Satuan Armada Barat, Kolonel Mar. Nono Sampono berjalan kaki melihat
situasi di Jalan Sukarjo Wiryopranoto. Kedatangan perwira AL ini dielu-elukan
massa.
Di kawasan Pecenongan, hotel dan
komplek pertokoan Radisson dirusak massa. Massa melempari kaca hotel dan
menjungkir-balikkan pos parkir hotel. Pot-pot bunga dilempar ke tengah jalan.
Sedangkan sekerumunan massa mulai mendongkel-dongkel kompleks pertokoan yang
masih baru itu. Tercatat, 19 kendaraan yang diparkir di pelataran pertokoan
Jalan Lautze dibakar massa.
Massa yang datang dari arah selatan
dengan kereta Jabotabek juga ikut melempari beberapa bangunan. Massa makin
beringas ketika kereta yang menuju arah kota tidak dapat melanjutkan
perjalanan, dan berhenti di stasiun Juanda. Sedangkan dari atas stasiun itu,
terlihat asap hitam mengepul dari arah Kota, Jembatan Lima, dan kawasan Mangga
Dua.
Kerusuhan tak terkendali juga
melanda wilayah Jakarta Pusat. Di Jalan Sudirman, seluruh karyawan kantor yang
berada di jalan protokol itu hanya bekerja setengah hari. Mahasiswa Universitas
Atma Jaya yang sejak pukul 09.00 WIB, menggelar mimbar bebas keluar jalan
sekitar pukul 13.30.WIB. Karyawan kantor yang berada dekat kampus ini, ikut
bergabung dalam aksi yang membuat jalan itu macet total. Massa sempat bergerak
ke arah barat menuju Polda Metro Jaya di pojok Semanggi. Lempar-melempar dengan
pihak keamanan pun baru reda sore harinya.
Di kawasan Salemba, sejak pukul
08.30 WIB, ribuan mahasiswa Universitas Indonesia menggelar mimbar bebas di
halaman kampus. Para mahasiswa itu tidak keluar kampus. Tetapi di Jalan
Matraman Raya, berkumpul ratusan massa yang datang dari berbagai kampung di
sekitar Salemba. Sekitar pukul 11.00 WIB, massa terus berdatangan hingga Jalan
Diponegoro, Salemba Raya, Matraman Raya dan Pramuka, macet total. Ribuan massa
yang berkumpul di ruas Jalan Salemba Raya dan Diponegoro bergabung. Mereka
melempari ratusan aparat kepolisian Polda Metro Jaya, yang berjaga di kawasan
itu.
Aparat polisi memilih mundur hingga
perempatan Jalan Pramuka. Merasa mendapat angin, massa membakar truk dan mobil
milik polisi unit reaksi cepat yang diparkir di depan rumah sakit St. Carolus.
Massa di perempatan Jalan Pramuka-Matraman-Proklamasi-Salemba terus meneriakan
yel-yel reformasi, menuntut Soeharto mundur. Massa yang berkerumun di depan
Fuji Image Plaza Matraman terus melempari dan meneriaki polisi.
Massa ini tampaknya sudah kehabisan
kesabaran dan berusaha melemparakan batu ke gedung BCA Matraman. Tetapi oleh
petugas Kodam dilarang. Massa yang sebagian besar penduduk Kebon Kemanggisan,
Matraman, Pramuka dan Berlan, akhirnya mengajukan pilihan untuk membakar kantor
Polsek Matraman.
Tentara Kodam dan Marinir yang
mengawasi massa ini terus mengajukan tawar-menawar. "Kalian boleh
melakukan apa saja, berteriak, mencaci, tapi jangan merusak gedung. Semua
gedung ini milik kalian, milik rakyat," kata seorang petugas dengan suara
lantang. Tetapi langsung dibalas dengan teriakan massa, "Senjata dan
seragam kepolisian juga milik rakyat, tapi mengapa mereka menembaki rakyat dan
membunuh mahasiswa." Mereka sangat histeris kala itu. Aksi yang tidak
terkendali ini langsung dikejutkan dengan sebuah lemparan api dari atas jalan fly
over Matraman Salemba.
Api langsung mengenai Kantor Polsek
yang terletak di pinggir Jalan Matraman. Pembakaran ini pun menghanguskan 3
buah sedan polisi, dan dua buah mobil kijang yang terpakir di halaman kantor
Polsek itu. Melihat jilatan api yang membakar gedung itu, massa berteriak
kesenangan. Tiba-tiba dari arah Jalan Proklamasi, sebuah truk Dinas Lalu Lintas
Angkutan Jalan Raya dibiarkan jalan tanpa sopir dan dibakar. Tadinya mobil itu
akan ditabrakkan massa ke gedung Polsek Matraman yang sudah terbakar hangus.
Akhirnya truk itu hanya berhenti di tengah lampu merah menuju Salemba. Melihat
aksi ini massa kembali berteriak kesenangan.
Polisi yang marah gedungnya terbakar
dan dicaci maki langsung membuang tembakan laras panjang ke atas. Seketika
massa kocar-kacir, mencari pelindungan dengan bersembunyi di balik gang-gang
biro pengetikan skripsi yang berjejer di Jalan Matraman. Polisi yang sudah
kepanasan menahan marah langsung membabi buta memberondong tembakan dan berlari
mengejar massa. Massa yang bersembunyi di gang-gang pengetikan skripsi pun
dihalau. "Anjing saja bisa marah, apalagi kami dicaci maki dan dirusak.
Ayo sekarang siapa berani melawan kami," hardik seorang polisi kepada
massa yang langsung diam.
Dari atas helikopter polisi
menyemprotkan gas air mata ke massa untuk membubarkan massa yang bersembunyi.
Tetapi massa tidak takut dan dengan tenang tetap bersembunyi. Seorang anak SMU
tertembak dalam penggrebegan di gang pengetikan skripsi. Seragam putihnya
bersimbah darah segar. Ia dipeluk seorang bapak supaya bisa bertahan dan jangan
menjerit. Di depan jalan Pramuka massa pun terus menerus mengejek polisi. Massa
yang sudah antipati ini melempari polisi dengan batu dan membakar ban mobil.
Seorang pemuda warga Matraman sempat ditembak polisi dari arah PD Pasar Pramuka
Djaya. Siswa SMU ini mengalami luka di iga kanan dan segera dilarikan ke Rumah
Sakit Husni Thamrin. Selesai magrib baru diketahui pemuda tersebut meninggal
karena kehabisan darah.
Di depan kantor Fuji Image Plaza
Matraman, seorang lelaki berumur 20-an tahun kakinya terkena peluru karet
akibat penembakan tadi. Korban ini dibawa ke ruang satpam Fuji Image Plaza
untuk ditenangkan. Tak lama kemudian sebuah mobil ambulan dari Kampus ABA
menjemput korban dan melarikannya ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo.
Massa di Jalan Haji Murtado
tampaknya tak jera dengan aksi ini. Massa yang sudah tidak dapat menahan amarah
ini menyiapkan berkarung-karung batu kali dan pecahan genting dan bata. Massa
juga menyiapkan ketapel karet yang diarahkan ke petugas. Sesekali massa sempat
memparodikan lagu bernada anti Soeharto. Sedang mahasiswa dari kampus ABA-ABI
Matraman dengan lantang menyanyikan lagu Baju Baru yang dinyanyikan penyanyi
cilik Dhea Ananda dengan mengubah liriknya. Liriknya adalah: Presiden baru
alhamdulilah, presiden lama ketuaan, sudah waktunya Harto diganti, jangan
memaksa itu-itu lagi.
Lain lagi yang dilakukan massa di
jalan Berlan. Massa yang sebagian besar keluarga tentara ini dengan gagah
berani melempari toko buku Gramedia. Setelah gedung hancur berantakan, massa
menjarah seluruh isi Gramedia. Peralatan sekolah dan peralatan kantor diangkut
massa dengan perasaan bersuka cita. Bahan makanan dari lantai Toserba Grasera
pun ikut dijarahnya. Seorang ibu tua dengan perasaan bangga menjinjing
sekeranjang apel impor. Nenek tua itu hanya berkata singkat, "Ini pesta
rakyat, bisa sesuka hati ambil apa saja," katanya sambil terkekeh
memperlihatkan deretan giginya yang ompong. Tiga orang anak mengangkat organ
besar dengan tertawa-tawa. "Asyik bisa bikin grup musik," katanya senang.
Dua orang pemuda justru mengangkut meja kantor dengan perasaan riang.
"Sering-sering aja begini, lumayan bikin kita senang,"
Sementara itu kantor pemasaran
Bimantara juga menjadi sasaran amuk massa. Pagar dan rolling door gedung
ini dirangsek massa. Komputer, kipas angin, sofa, dan televisi milik Bimantara
dikeluarkan, lalu dibakar di tengah jalan. Tidak hanya itu, tiga buah mobil
baru Bimantara juga dikeluarkan oleh massa dan dibakar di tengah jalan.
Selebihnya mobil yang masih berada di dalam gedung dihancurkan. Aparat keamanan
di samping gedung itu hanya mengawasi dari jarak yang tak terlalu jauh -- entah
mengapa mereka diam saja.
Massa terus bergerak menuju
perempatan Pramuka, di mana aparat telah memblokirnya. Aparat di situ
menghalaunya dengan tembakan. Massa pun kocar-kacir. Setelah gedung terbakar,
massa masih sempat menjarah sisa-sisa mobil yang terbakar. Knalpot dan
sisa-sisa komponen mobil dijarah dan dibawa pulang. Beberapa orang pegawai dari
arah Senin yang terjebak di kerumunan karena tidak ada kendaraan justru
mengolok-olokan temannya. Dengan sindiran lagu Tenda Biru-nya Dessy Ratnasari
dia melantunkan ke arah massa. Bunyinya, "Tak sengaja aku lewat
Salemba, kuterjebak ada aksi mahasiswa. Kuberada di kerumunan massa, hati
bertanya ini salah siapa."
Sekitar pukul 13.00 WIB, puluhan
marinir datang dari arah Salemba Raya. Mereka kemudian berbaur dengan massa
yang kalap itu. Mereka mengadukan tangan dengan massa tanda persahabatan, ada
juga yang berpelukan. Para marinir itu pun disambut hangat oleh massa. Bersama
tentara angkatan laut tadi, massa bergerak lagi menuju perempatan Pramuka.
Perempatan ini bak neraka. Massa yang dari Salemba terus merangsek maju, dari
Jalan Pramuka pun mendekat dan massa yang dari Jl. Matraman terus membludak. Dari
berbagai arah itulah batu-batu dilemparkan ke aparat yang terdesak di wilayah
perempatan tadi.
Di sekitar jalan Salemba, tentara
marinir mendapat simpati dari massa. Ketika sebuah jip tentara dikemudikan tiga
orang marinir membawa selusin aqua galonan besar dan memutari Jalan Salemba
sampai Matraman, massa mengelu-elukan. Para marinir ini membagi-bagikan minuman
ke massa.
Satuan aparat yang lain melepaskan
pelurunya. Massa yang berada di jalan Pramuka pun kocar-kacir. Massa yang di
jalan raya Salemba, terus melemparkan batu, sembari berlindung di balik para
marinir tadi. Pasukan dari Kodam Jaya yang menutup Jalan Proklamasi kemudian
mengejar dan menembak massa. Sempat terjadi salah paham antara para polisi
dengan para marinir yang berbaur dengan massa tadi. Mereka nyaris berantem di
depan massa yang lagi marah itu. Terlihat jelas bahwa massa mendukung marinir.
Untung saja pada saat yang gawat, pasukan polisi militer yang ada di sekitar
itu, cukup sigap melerainya.
Polisi terus menembak massa yang
nekad maju dari arah Pramuka. Akibatnya korban pun berjatuhan. Iwan Arsyad, 24
tahun, yang bekerja di kantor angkutan di Salemba II no.10, tertembak pas di
selangkangnya. Ia digotong ke rumah sakit dalam keadaan sekarat. Korban lainnya
adalah Irwan, pelajar STM . Sebuah peluru bersarang pas di dadanya. Korban
ketiga identitas tidak jelas. Peluru polisi menyambar bahu dan lehernya.
Amarah massa pun tak terkendali
lagi. Mereka terus merangsek maju. Dua buah truk milik Kodam Jaya dibakar
massa. Kantor Polsek Matraman pun ludes dilalap api. Empat buah mobil dan motor
yang diparkir di depan kantor polisi itu, juga dibakar massa. Aparat memilih
mundur dari lokasi ini. Dalam suasana tanpa aparat itulah massa merangsek masuk
ke gedung Fuji Film di Jalan Matraman Raya. Bank BCA yang berada di samping
Gedung Fuji ini, juga dilempari massa. Hotel Menteng yang di depannya
terpampang besar spanduk " reformasi" dan spanduk bertulisakn milik
pribumi juga menjadi sasaran amuk massa.
Hingga pukul 20.00 WIB, massa terus
beryel-yel di jalan Matraman itu. Sekitar pukul 22.00 WIB, jalan itu terlihat
lengang.
Sementara Bank BCA dan BII di Jalan
Saharjo, ikut diporak-poranda massa dan isinya dijarah massa. Empat mobil yang
terparkir di kompleks ruko tersebut dikeluarkan dan dibakar di tengah jalan.
Sementara di tempat parkir, satu mobil lainnya, mengalami rusak berat. Tidak
ada siapa pun yang mencegah kebrutalan tersebut. Bahkan aparat keamanan tak
satu pun terlihat di situ. Sehingga massa dengan leluasa menjarah dan membawa
hasil jarahannya.
Karena peristiwa tersebut, praktis
Jalan Saharjo tertutup buat kendaraan yang lewat. Metromini ke arah Manggarai
terpaksa menurunkan penumpangnya di sekitar perempatan Casablanca. Bahkan bajaj
pun tidak bisa lewat karena api membubung di tengah jalan menghanguskan ke
empat mobil tersebut. Di samping itu, sejumlah masyarakat memenuhi jalan
tersebut untuk menonton.
Di sejumlah tempat di Jalan Sahardjo
ban-ban bekas pun dibakar. Kebrutalan juga terjadi di terminal Manggarai. Pos
Polisi yang terdapat di situ juga ikut diamuk massa. Tapi kebringasan yang
lebih besar berhasil dicegah. Sejumlah aparat keamanan berjaga-jaga di seputar
Manggarai. Termasuk di sejumlah jalan kecil seputar itu, dan lorongnya juga
dijaga aparat.
Ada pemandangan
"memilukan". Seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun, diantar
ibunya, "menjarah" toko alat tulis di bilangan Megaria. Apa yang
diambilnya? Tas sekolah "Hello Kitty". Ibunya mengambili buku
sekolah. "Ya, ini untuk simpanan setahun," kata si ibu dengan
malu-malu. Sang anak spontan menjawab,"Ini jatah rakyat..."
Jakarta Selatan
Di kawasan pertokoan Pasar Minggu,
ribuan massa mengamuk membakar dan menjarah barang toko sembari meneriakkan
pekik reformasi. Massa yang datang dari arah Lenteng Agung berkumpul dan
melempari Bank BCA dan BRI. Sebelum membakar kedua bank tersebut, massa
menerobos masuk dan merusak mesin ATM dan menguras isinya. Massa juga memasuki
bank dan membawa semua barang yang ada.
Satu mobil jip merek Suzuki milik
BRI dan beberapa motor milik karyawan didorong massa ke jalan dan dibakar. Tak
hanya kedua bank di tepi Jalan Raya Pasar Minggu menuju Depok yang dibakar
massa. Puluhan motor milik show room Suzuki dibawa ke jalan untuk
dikumpulkan menjadi satu dan dibakar.
Aparat keamanan yang terdiri dari
dua truk Kodam Jaya tak mampu menahan keberingasan massa yang terus bergerak
menuju pertokoan milik Pasar Jaya. Sembari melempari beberapa toko, massa juga
menjarah barang dagangan yang ada. Terlihat beberapa orang membobol pintu
teralis dan masuk, lalu keluar sembari menggotong hasil jarahan. Beberapa toko
elektronik dan onderdil kendaraan bermotor ludes dijarah massa. Terlihat
puluhan orang menggotong televisi, lemari es, dan barang eletronik lainnya.
Beberapa pelajar dan pemuda mencoba menghalangi massa yang membawa barang
jarahan. Sekelompok pemuda itu memerintahkan untuk mengumpulkan barang jarahan
dan dibakar di tengah jalan.
Berbeda dengan pusat belanja pakaian
Robinson yang ludes terbakar, toko serba ada Tetap Segar isinya habis dijarah
massa. Terlihat beberapa orang berulangkali mengangkuti hasil jarahannya.
Bahkan ada yang membawa karung plastik penuh dengan isinya.
Pusat perkulakan Goro milik Hutomo
Mandala Putra, tak luput dari amukan massa. Sebelum membakar, ribuan orang
menguras habis isi perkulakan tersebut. Tak hanya pemuda dan pelajar yang ikut
menjarah, ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua tak ketinggalan. "Goro
bagi-bagi sembako," begitu mereka berteriak kegirangan.
Daerah Kota
Sementara di Jalan Gadjah Mada dan
Hayam Wuruk terlihat kondisinya sangat memprihatinkan. Puluan ribu massa
menggerombol di sepanjang jalan tersebut hingga jauh terus dari arah Glodok.
Menurut seorang saksi mata yang menyaksikan sejak awal, kondisi di sana telah
memburuk sejak pukul 09.30. Pukul 10.30, sebagian massa sudah menghancurkan
kaca BCA dan membongkar semua barang, termasuk komputer dan barang-barang lain.
Semua barang dikeluarkan ke jalan dan dibakar.
Jalan terus menuju Glodok, diskotek
Turama juga tampak hancur. Tak jauh dari situ, Holland Bakery dan show room
Honda juga dihancurkan. Bahkan massa juga membuka paksa Holland dan mengambili
semua roti yang ada. Sebagian ada yang membagi-bagi roti tersebut ke massa.
Sebagian yang lain membawa pulang roti jarahan tersebut. Beberapa meter
kemudian, sebuah supermarket kecil juga dijarahi. Sambil menentang beberapa tas
plastik yang penuh barang jarahan, banyak yang teriak "pembagian
sembako".
Sementara di Jalan Mangga Besar
Raya, massa membakari puluhan mobil. Mereka juga menghancurkan sebagian
bangunan di sepanjang jalan itu. Beberapa bank dan show room tampak
porak poranda.
Bagian yang terburuk di jalan ini
adalah komplek pusat elektronik Glodok. City Hotel, yang jadi satu dengan Pasar
Jaya Glodok terbakar parah. Bahkan sesekali terdengar letusan dari dalam dan
terdengar suara gedung yang akan runtuh. Massa pun berlarian menjauhinya.
Sementara di seberang jalan, Glodok Plaza juga dihancurkan. Massa juga membakar
tempat tersebut, tetapi tidak sehancur Pasar Jaya dan City Hotel.
Massa terus berkumpul dan melempari
apa saja. Di kompleks Glodok ini juga tampak spanduk bertuliskan "Pak Dwi,
kami butuh dana segar. Kalau tidak, kami butuh darah segar Anda". Ada lagi
Spanduk "Sudwikatmono, jangan larikan dana milik rakyat yang sudah
kelaparan ini". Spanduk ini dialamatkan untuk Sudwikatmono, konglomerat
yang masih kerabat dekat Cendana.
Aparat memang tampak sangat
kelelahan mengatasi ini. Beberapa kali mereka mencoba membubarkan massa dengan
tembakan peringatan. Pertama, sekitar 12.00 WIB, terlihat puluhan motor PHH
meluncur dengan sangat cepat dan dengan cepat mereka turun. PHH mulai
memberikan tembakan peringatan. Tidak jelas apakah ada yang terkena tembakan
itu, karena massa langsung berlarian dan sembunyi. Tetapi seorang wartawan
menyaksikan aparat sempat membawa seseorang yang tampaknya tidak bisa berjalan.
Beberapa jam kemudian, terdengar tembakan lagi.
Massa tampak sangat marah di sana.
Massa berteriak mengecam keras pemerintahan Presiden Soeharto.
"Pemerintahan yang nepotis", "Orang kaya yang punya utang,
kenapa kita yang suruh bayar."
Yang pasti, hampir tidak ada
bangunan yang selamat dari kerusakan. Massa betul-betul memanfaatkan
kesempatan. Bahkan terlihat beberapa orang mengangkat kulkas ataupun TV. Tetapi
ada sebagian orang yang juga tampak melarang orang lain untuk membawa pulang
barang-barang tersebut. Mereka menyuruh barang-barang itu ditaruh di jalan dan
dibakar.
Sementara di beberapa jalan menuju
perumahan, tampak hansip dan warga setempat berjaga-jaga. Menurut mereka,
mereka hanya ingin menjaga agar kerusuhan tidak merembet ke perumahan mereka.
Mereka memasang kursi dan berjaga bersama-sama.
Sehingga sampai sore, sepanjang
jalan ini masih terus mengeluarkan asap. Pembakaran belum berhenti. Sampai
larut malam, di perempatan jalan Pramuka, Salemba, Matraman, Proklamasi masih
ada sisa-sisa api. Suasana malam sangat mencekam. Bau hangus gedung , mobil,
dan sisa pembakaran ban masih menyengat. Jumat pagi hari Jakarta terasa
lengang.
Jum'at, 15 Mei 1998
Penjarahan masih terus berlangsung.
Jakarta praktis seperti kota mati. Bus dan taksi bisa dihitung dengan jari. Pom
bensin masih tutup. Pasar dan pertokoan juga libur. Pihak keamanan mengumumkan
ada sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan dua hari ini -- sebagian besar
terpanggang di gedung yang terbakar.
Tak kurang dari delapan perumahan
mewah, sebagian besar di Jakarta Barat, yang dimasuki penjarah. Delapan pusat
pertokoan juga ludes digasak massa. Sedikitnya sepuluh kantor polisi hancur
atau dibakar massa. Dan 800 orang ditangkap polisi. Sementara itu, di Surabaya
dikabarkan 40 orang ditangkap dalam kerusuhan di ibukota Jawa Timur itu.
Warga di hampir seluruh wilayah
Jakarta masih bersiaga untuk menghadapi para perusuh yang dikabarkan terus
menyerang berbagai lokasi perumahan.
Apakah akan ada perubahan politik
besar setelah Peristiwa 14 Mei 1998, baru minggu-minggu ini akan
"ketahuan". Tampaknya, tuntutan reformasi yang makin santer, semakin
sulit dielakkan lagi oleh pemerintah. Jika tuntutan perubahan mendasar itu tak
segera diakomodasi, kondisi politik akan menjadi semakin sumpek, ditambah
krisis ekonomi yang makin menekan, bukan mustahil kerusuhan akan makin meluas.
EB, HP, PDP, ANY, WN, MIS
Wawancara
Prof. Dr. Moedanton Moertedjo: "Sudah di Kampus kok Masih
Ditembak-tembaki"
"Peristiwa 12 Mei di Trisakti
membuat semua orang tersentak. Enam orang mahasiswa mati ditembak oleh aparat
keamanan ketika mereka berada di dalam kampusnya. Kepada sejumlah wartawan,
termasuk Mustafa Ismail dari TEMPO Interaktif, Rabu (13/5)
sore, Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Moedanton Moertedjo,
mengatakan bahwa ia sangat menyesalkan peristiwa tersebut. "Mereka sudah
di kampus, kok masih terus ditembak-tembaki," katanya. Cuplikannya:
Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan
oleh pihak Trisakti?
Kita, LBH, dan Komnas HAM akan membentuk satu tim fact
finding (pencari fakta). Pak Sjafrie (Pangdam Jaya) sebagai Pangdam juga
Ditpom-nya mengadakan pencarian fakta. Nanti kita cocokkan.
Anda menyesalkan peristiwa penembakan
itu?
Sangat menyesalkan. Apalagi mereka sudah di kampus, kok
masih terus ditembak-tembaki.
Apa tindakan hukum terhadap
penembakan itu?
Ya, kita akan buktikan, siapa nanti yang salah. Semuanya
sekarang sesuai dengan hukum, sesuai prosedur.
Terhadap aparat yang nanti terbukti
melanggar hukum, apakah akan dibawa ke pengadilan?
Jelas ke pengadilan.
Apakah tuntutan itu nanti akan
dilakukan oleh pihak rektorat atau diserahkan kepada keluarga masing-masing?
Saya kira rektorat, karena kita merupakan organisasi. Kalau
keluarga mau bertindak, silakan.
Apakah Anda percaya ABRI bisa
melakukan tindakan tegas terhadap aparatnya?
Saya percaya dari Ditpom bisa.
Apakah ada yang hilang dari
peristiwa itu?
Belum jelas.
Oh ya, apakah gerakan moral ini akan
terus berlangsung?
Saya kira terus. Kita terus jalan. Asal kita konsisten
dengan peraturan yang berlaku, kita tetap di kampus. Kalau mau ke DPR, kita ke
DPR dengan tertib. Kita ajukan konsep-konsep dengan tertib melalui para dosen.
Apakah rektorat akan memfasilitasi
apabila ada keinginan ke DPR?
Oh ya, jelas. Kita akan mengundang DPR atau kita yang ke DPR
serta mengundang orang-orang tertentu untuk diskusi di kampus, dan sebagainya.
Asal semua berlaku di kampus saya kira nggak ada apa-apa.
hanya untuk bacaan pribadi....
kalau anda mau cari topik yang sama? carilah yang sumbernya bisa dipercaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar